Thursday, 15 January 2015

Tubuh Kota



Ayah,
Malam terlalu pagi untukku pulang
Mataku masih terang sepertinya
Menjengkal tiap sisi tubuh kota
Merasakan lagi pelukannya yang  kau larang

Langkahku  tersesat disergap indah raganya
Ke lekuk paling cekung  
Ditelan ke dasar perut
Dibuai ke batas lalai
Aku dibinasakan

Tidak ayah,
Aku tidak tersesat
Aku hafal tiap liku dan simpang,
Aku biasa mencium kecutnya
Aku memang ingin direngkuhnya

Jadi, jangan minta aku pulang
Lelaplah

Saat malam tanpa sunyi
Debat kehilangan kata
Habis rima dalam sajak
Aku menyerah pulang



Bandar Lampung, November 2014

Bingkai (Rahman)



Ibu selalu tersenyum menatap bingkai hitam
Bingkai yang digantung di ruang tamu
Tempat orang-orang berkumpul di hari minggu
Tak ada foto keluarga dan pajangan

Ibu juga selalu menceritakan bingkai itu
Pada siapapun yang berkunjung
Matanya binar tapi berkaca-kaca

Kadang ia duduk sendirian dibawahnya
Seperti sedang terjadi obrolan disana
Diselangi tawa dan sesekali isakan


Gedung Tataan, Juni 2014

Sebentar


Apa yang bisa kita ingat dari obrolan yang sebentar
Dari pertemuan yang penuh debar
Di halaman gedung pertunjukan tua
Pada cuaca lembap yang membuat hari jadi singkat
Selain mataku yang salah tingkah
Kau yang menatap heran
Serta senyum tipis di tiap sudut bibir mereka




 Juni 2014

Wednesday, 8 October 2014

Langit Sebelah Bukit


Mengunjungi tempat ini bukanlah pilihan yang baik, tapi diam dan bergeming adalah pisau di antara daging. 

Tuesday, 7 October 2014

Merindu Hujan




Sepi serupa kerikil di ulu hati
Menggetarkan dada sampai pagi
Membelai hangat tapi nyeri
Mencaci tanpa arti

Sepi tak suka hujan
Ia tanpa daya disana

Tapi dimana kusimpan resep meracik mendung?
Tak ada di saku celana apatah lagi di lemari tetangga
Ah, sudahlah, mungkin ia hilang ujung










Wednesday, 1 October 2014

Buku cerita bersampul putih



Sore ini aku melihat burung menangis
Di balik pepohonan bukit
Tak ada cerah langit
Bulu-bulu coklat terbawa angin

Puluhan kemarau berlalu sejak terakhir kita berlarian di sini
Menangkap sayap kupu-kupu
Menyingkap lanskap abu-abu
Menghitung atap rumah kayu

"Hampir malam, ayo pulang"
Katamu sambil membersihkan daun-daun kering di rambutku
Kemudian dadaku senyap, Dingin tak ingin lenyap

Kau terburu mengajakku kemari
Lalu tergesa memintaku pulang ketika senja sedang memuncak

Kau kini sebuah buku cerita
Di laci meja
Bersampul putih
Tanpa halaman terakhir


Bandar Lampung 1 Oktober 2014
















Sunday, 21 September 2014

Jerzey Grotowski

Senang sekali bisa menulis ini di blog saya...

Beberapa minggu yang lalu, kak is (Iswadi Pratama) mengajak kami berdiskusi tentang Jerzey Grotowski, Seorang Teaterawan yang juga murid dari Stanyslavski. Diskusi yang sangat menarik, bagaimana Pengaruh Stanyslavski pada sistem atau metode latihan Grotowski dan perbedaan antar keduanya. Grotowski terkenal dengan sebutan 'Teater Miskin' atau 'Poor Theatre', apakah itu? Pada tahun 1960-an ia melihat banyak pementasan teater yang menggunakan kecanggihan teknologi yang hadir di atas panggung, seperti make-up, kostum, lighting dan kecanggihan lainnya yang te
rnyata menurut Grotowski akan menenggelamkan kemampuan si aktor itu sendiri. Semuanya bersifat komersil dan seakan membuat teater jadi  bersaing dengan  dunia film dan televisi. Menurutnya tanpa segala kecanggihan itu dia merasa bisa membuat aktor tetap bagus diatas panggung dengan menggunakan media dari si aktor itu sendiri seperti tubuh dan impuls. Jadi kerja aktorlah yang paling utama dibanding segala jenis kecanggihan-kecanggihan yang ada. Sangat masuk di akal, karena sepengetahuanku memang segala bentuk kemewahan dan kecanggihan diatas panggung hanya untuk menutupi kelemahan si aktor dan membuatnya tidak menggali kemampuan aktor lebih dalam. Diskusi kami lanjutkan dengan pembahasan tentang fase Teater Miskin menurut Grotowski:


  • Theatre Laboratory 

Dalam lab teater ini yang merupakan fase pertama Aktor diharuskan bekerja dan melatih  tubuhnya sendiri seperti kelenturan tubuh, topeng organik dll. Aktor harus menyadari mana yang diri mereka pribadi mana yang peran. Aktor diminta untuk berkomunikasi dengan diri sendiri. Dalam fase ini Grotowski melenyapkan jarak antara panggung dan penonton. Jadi peonton dan aktor tampak lebih dekat dan aktor juga bisa berkomunikasi dengan penonton. akiting yang dimainkan para aktor bukan untuk mengidentifikasi tokoh, taoi untuk melawan kebenaran yang bersifat universal seperti norma, tabu dll.

  • Para Theaterical Research
Di fase kedua ini penonton diajak terlibat lebih jauh, aktor mulai bermain dengan penonton, agar apa yang dialami dan dirasakan si aktor dirasakan pula oleh peonton. Aktor harus membuat lingkungan baru dengan cara berkomunikasi dengan aktor lainnya, melalu metode 'Via Negativa' atau menghilangkan segala hambatan-hambatan yang akan menghalangi penyatuan antara manusia dan Tuhan. Dalam kasus ini Grotowski menyebutnya dengan kembali ke nol. Si aktor harus menyerahkan dirinya sepenuhnya tanpa ada rasa pretensi, tujuannya agar impuls hadir dalam diri si aktor. Akting menjadi sebuah terapi agar sebagai individu si aktor bisa lebur di tengah kolektivitas (depersonalisasi). Kita seperti melihat sekumpulan aktor yang sedang bermain tampak seperti seorang saja, mereka semua melakukan gerakan yang sama dan menjadi sebuah kesatuan. Di fase ini pula, aktor akan di asingkan dari keramaian, mereka akan melakukan meditasi dll. Grotowski mengundang beberapa master budaya dari belahan dunia dan mempelajarinya sehingga tahu beberapa bentuk-bentuk tubuh dari berbagai budaya. 
  • The Holy Actor
Fase ini adalah fase dimana aktor sudah menemukan jati dirinya setelah beberapa fase sebelumnya. Disini, aktor sudah tidak butuh penonton lagi. Dan ketika sudah menemukan jati dirinya, aktor sudah tidak butuh penas lagi. 


Diskusi malam itu diakhiri dengan keputusan bahwa kami akan memulai latihan dengan metode Grotowski secara bertahap. yang pertama kami akan melakuka olah tubuh atau pelenturan pada tubuh-tubuh aktor dengan berbagai macam gerakan yang beberapa kami coba cari referensi di you tube tentang metode latihan olah tubuh Grotowski. 

Monday, 7 January 2013

featured Tempo Magazine 7-13 January 2013




waww.... have published!! by performing "Anak Yang Dikuburkan" at Teater Salihara Jakara, we chosen as Indonesian Best Theater Group 2012 ^_^

Sunday, 6 January 2013

the big family of Teater Satu

wearing black?? why not!! goooooooooo!!







what a very round face!!! -___-


actually those pictures are not come from the Tempo's photographer but our camera... hehehehe... so the quality is..... just so so... but, the expression is totally full passion!! hahahaaa....

Wednesday, 2 January 2013

Grup Teater Terbaik 2012 Versi Majalah Tempo (The best Theater Group 2012 by Tempo Magazine

Very great day and also awesome to know that my theater group chosen as Indonesian best theater group by Tempo Magazine,,, before the news publish we take some interviews and also photo session.... i will post the pictures later on guys...... 

Wednesday, 5 December 2012

"Kisah-Kisah Yang Mengingatkan" at Lotus Cafe, Ubud reader and Writer Festival, October 5














our performance in Ubud Reader and Writer Festival 2012 in Ubud Bali... very excited!! we played "Kisah-Kisah Yang Mengingatkan" directed/written by : Iswadi Pratama...... 

Behind The Stage of "Anak Yang Dikuburkan"





this is our activity behind the stage!!heheh.. making up, conditioning, checking the script and getting relax... :)
all pictures taken by : Witjak Widhi from Teater Salihara, thanks mas witjak! 

The Performance of "Anak Yang Dikuburkan" by : Sam Shepard, at Teater Salihara Jakarta, June 29-30 2012







I play as Selly, it is very great performance and great process. the responds from the audiences is great also, they satisfied with our performance!!